Kamis, 30 Juni 2011

PEMERAHAN PADA SAPI PERAH

Bagi rekan-rekan semua yang lagi butuh pustaka tentang teknik pemerahan pada sapi perah, ni aq bagi-bagi, gratiss:

PEMERAHAN PADA SAPI PERAH





Muhammad Alwi
(D151100131)











SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2011

BAB 1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Proses pemerahan merupakan aspek penting dalam peternakan sapi perah. Hal ini disebabkan karena susu adalah produk utama dari sapi perah, dan jika tidak ditangani dengan baik, maka kualitas susu yang dihasilkan tidak akan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Susu sebagai bahan yang kaya dengan kandungan nutrisi menyebabkan mikroba akan mudah berkembang biak pada susu, demikian juga berbagai pencemer lainnya berupa material fisik dari lingkungan sekitar, dan juga susu sangat mudah menyerap bau yang ada. Berdasarkan hal ini, maka dibutuhkan penangan khusus sebelum, ketika, dan setelah proses pemerahan ternak, demikian juga susu yang dihasilkan, harus segera ditangani dengan baik dan benar, tentu tujuan utamanya adalah untuk menghindari kerusakan pada produk susu yang telah diperah.
Produk susu yang dihasilkan haruslah selalu dikontrol mutunya. Pemeriksaan kualitas susu secara rutin merupakan prosedur standar yang harus dilakukan agar dapat diketahui kualitas susu secara kontinyu. Analisa keadaan dan kualitas susu meliputi berbagai uji, diantaranya uji fisik (bau, rasa, warna, dan kekentalan), uji alkohol, pengukuran kadar protein, kadar lemak, bahan kering, dan beberapa jenis pengujian lainnya. Intinya adalah sebagai kontrol kualitas produk susu yang dihasilkan. Pengujian yang dilakukan tentunya atas dasar menjaga kualitas produk yang dihasilkan. Hal ini sebagai kontrol mutu sesuai dengan standar yang berlaku, yaitu SNI.
Pemerahan ternak dapat dilakukan dengan cara tradisional (dengan menggunakan tangan), dan dengan cara modern (menggunakan mesin). Masing-masing cara memiliki keunggulan tensendiri, sehingga perlu disesuaikan dengan keadaan peternakan yang dikelola. Cara tradisional tidak membutuhkan biaya tinggi, tetapi kualitas susu perahan yang dihasilkan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan cara modern (Himam, 2008).
Pemerahan merupakan satu kesatuan proses dari pra-pemerahan, saat pemerahan, dan setalah pemerahan, dan juga penangan hasil pemerahan. Proses ini haruslah dilakukan secara sempurna dan selalu memperhatikan semua aspek yang meliputinya. Penerapan prosedur pemerahan yang baik dan benar diharapkan dapat meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan.

Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membahas hal-hal penting yang berkaitan dengan proses pemerahan pada sapi perah, meliputi pengujian kualitas susu dan teknik pemerahan.

Manfaat
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan petunjuk teknis persiapan pemerahan, proses pemerahan dan pengujian kualitas susu yang dihasilkan.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Analisa Keadaan dan Kualitas Susu
a. Pengertian Susu Segar Murni
Menurut SNI 01-3141-1998, susu segar murni adalah cairan yang berasal dari ambing sapi sehat dan bersih, yang diperoleh dengan cara yang benar, yang kandungan alaminya tidak dikurangi dan ditambah sesuatu apapun dan belum mendapat perlakuan apapun kecuali proses pendinginan tanpa mempengaruhi kemurniannya. Syarat mutu susu segar murni adalah tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Syarat Mutu Susu Segar Murni
a. Berat Jenis (suhu 270 C) Minimal 1,0280
b. Kadar lemak Minimal 3%
c. Kadar BK tanpa lemak Minimal 8%
d. Kadar protein Minimal 2,7%
e. Warna, rasa, bau, kekentalan Tidak ada perubahan
f. Derajat asam 6-70 SH
g. Uji alkohol Negatif
h. Uji katalase maksimum 3 cc
i. Angka refraksi 36-38
j. Angka reduktase 2-5 jam
k. Cemaran mikroba total 1x106 CFU/ml
l. Jumlah sel radang Maksimum 2x105/ml
m. Kotoran dan benda asing Negatif
n. Uji pemalsuan Negatif
o. Titik beku -0,52 s/d -0,560 C
p. Uji peroxidase positif
Sumber: SNI 01-3141-1998
b. Uji Mastitis
Mastitis adalah istilah yang digunakan untuk radang yang terjadi pada ambing, baik bersifat akut, subakut ataupun kronis, dengan kenaikan sel di dalam air susu dan perubahan fisik maupun susunan air susu, disertai atau tanpa adanya perubahan patologis pada kelenjar (Rahayu, 2003). Pengamatan secara klinis adanya peradangan ambing dan puting susu, perubahan warna air susu yang dihasilkan. Uji lapang dapat dilakukan dengan menggunakan California Mastitis Test (CMT), yaitu dengan suatu reagen khusus.
Teknik pengamatan yaitu dengan cara mengambil 4-5 ml susu dari masing-masing puting, kemudian diletakkan pada cawan uji seperti tampak pada gambar 1., lalu diteteskan reagen khusus setara dengan banyaknya susu. Goyang cawan sekitar 10 detik agar reagen bercampur. Segera baca keadaan susu sebelum 20 detik, karena hasil akan segera hilang.

Gambar 1. Pengambilan Air Susu

Gambar 2. Hasil Campuran Susu dengan Reagen
Tabel 2. Skor Hasil Uji CMT
Skor CMT Rata-rata sel/ml Description of reaction
N (negative) 100,000 Tidak ada gumpalan, homogen
T (trace) 300,000 Gumpalan sedikit. Rekasi hilang dalam 10 detik
1 900,000 Gumpalan nyata, tidak ada jel terbentuk.
2 2,700,000 Cepat menggumpal, mulai membentuk jel, tingkat pada bawah cup.
3 8,100,000 Jel terbentuk, permukaan meningkat, memusat ditengah

c. Uji Penetapan Berat Jenis (BJ)
Standar ini menetapkan metoda untuk mengukur berat jenis (BJ) susu segar. Prinsipnya adalah bahwa benda padat yang dicelupkan ke dalam suatu cairan akan mendapatkan tekanan ke atas seberat volume cairan yang dipindahkan. Berat jenis diukur di antara suhu 20 - 300C kemudian disesuaikan pada :
BJ. 27,50 76 cm Hg.
27,50
Cara pengujian: homogenkan susu dengan sempurna (dituangkan dari gelas piala satu ke gelas piala lainnya), kemudian dengan hati-hati dituangkan kedalam tabung tanpa menimbulkan buih. Dengan hati-hati laktodensimeter dicelupkan ke dalam susu dalam tabung tadi, biarkan timbul dan tunggu sampai diam. Baca skala yang ditunjukkan dan angka yang terbaca menunjukkan angka ke-2 dan ke-3 dibelakang koma, sedangkan desimal ke-4 dikira-kira. Cara pengujian ini pada suhu 270C.
d. Uji Kadar Lemak Metoda Gerber
Metoda Gerber adalah prosedur empiris untuk menentukan nilai kadar lemak susu dalam satuan gram lemak per 100 ml susu. Prinsipnya adalah bahwa asam sulfat pekat merombak dan melarutkan kasein dan protein lainnya, sehingga menyebabkan hilangnya bentuk dispersi lemak. Pemisahan lemak dipercepat dengan penambahan amil alkohol yang akan mencairkan lemak dengan panas yang ditimbulkannya. Dengan sentrifugasi akan menyebabkan lemak terkumpul dibagian skala dari butirometer.
Prosedurnya adalah masukkan 10 ml asam sulfat pekat ke dalam butirometer, lalu tambahkan 10,75 ml contoh susu dan 1 ml amil alkohol. Urutan dari pemasukan bahan ke dalam butirometer harus runtut seperti cara di atas. Kemudian butirometer disumbat sampai rapat, kemudian dikocok sehingga bagian-bagian di dalamnya tercampur rata. Setelah terbentuk warna ungu tua sampai kecoklatan (terbentuk karamel), masukkan butirometer ke dalam sentrifus dan disentrifusi pada 1200 rpm selama 5 menit. Kemudian masukkan butirometer ke dalam penangas air dengan suhu 650 C selama 5 menit. Setelah itu, bacalah skala yang tertera pada butirometer. Skala tersebut menunjukkan persen kadar lemak.
e. Pengukuran Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak (BKTL)
Metoda ini untuk perhitungan kadar bahan kering tanpa lemak dalam susu segar dengan cepat. Untuk metode ini diperlukan data persentase kadar lemak dan berat jenis (BJ) susu. Caranya adalah dengan menggunakan rumus berikut:
BK = 1,311 x L + 2,738 100 (BJ - 1)
BJ
dimana : BK = Kadar Bahan Kering
L = Kadar Lemak susu
BJ = Berat Jenis susu
Penetapan Kadar Bahan Kering Tanpa Lemak berdasarkan rumus :
BKTL = BK - L
dimana : BKTL = Bahan Kering Tanpa Lemak
BK = Kadar Bahan Kering
L = Kadar Lemak susu.

f. Uji protein menurut Kjeldahl
Prinsipnya adalah pemanasan contoh susu dalam asam sulfat pekat mengakibatkan terjadinya destruksi protein menjadi unsur-unsurnya. Untuk mempercepat proses destruksi tersebut sering ditambahkan kalium sulfat bersamaan dengan cupri sulfat (sebagai indikator) sehingga gugusan N (organik) akan berubah menjadi gugusan amonium sulfat. Melalui penambahan natrium hidroksida dan pemanasan terjadilah proses destilasi dimana amonium sulfat akan dipecah menjadi amonia. Selanjutnya amonium yang dibebaskan akan ditangkap oleh asam borat, sedangkan sisa asam borat yang tidak bereaksi dengan amonia akan dititrasi dengan asam klorida 0,1 N. Selisih jumlah titrasi contoh dengan blanko merupakan jumlah ekivalen nitrogen.
Prosedurnya yaitu masukkan ke dalam labu Kjeldahl 5 gram contoh susu, batu didih, 10 gram K2SO4 dan 0,25 gram CuSO4. Kemudian tambahkan 20 ml H2SO4 dan campur dengan baik. Panaskan hingga tidak ada uap, teruskan pemanasan sampai mendidih dan sekali-sekali labu diputar. Setelah cairan dalam labu terlihat jernih dan tak berwarna, teruskan pemanasan selama 90 menit, kemudian didinginkan. Setelah mencapai suhu kamar, tambahkan 150 ml aquades serta beberapa butir batu gelas, campur dan biarkan hingga dingin. Di dalam erlenmeyer terpisah masukkan 50 ml asam borat, 4 tetes indikator dan campurkan. Kemudian tempatkan di bawah pendingin (Leibig) sehingga ujung pipa mengenai asam borat. Melalui dinding, masukkan secara perlahan-lahan dan hati-hati 80 ml larutan NaOH ke dalam labu Kjeldahl sehingga NaOH tidak tercampur dengan isi dari labu tersebut. Pasanglah labu Kjeldahl dengan segera pada alat destilasi. Panaskan labu Kjeldahl, mula-mula secara perlahan-lahan sampai dua lapisan cairan tercampur, kemudian panaskan dengan cepat sampai mendidih. Atur panasnya sampai terjadi proses destilasi (pemanasan minimum 20 menit). Menjelang berakhirnya proses destilasi letakkan labu erlenmeyer pada tempat yang lebih rendah sehingga ujung pipa tidak menyentuh larutan asam borat lagi. Dinginkan hasil destilasi (destilat) dan jaga agar larutan asam borat tidak turut panas. Titrasi destilat dengan HCl 0,1 N. Lakukan prosedur diatas terhadap 5 ml aquades sebagai blanko/kontrol. Cara perhitungan sebagai berikut:
Kandungan protein (%) = 1,4 x N x (A - B) x 6,38
C
N = Normal HCl
A = Jumlah HCl yang digunakan untuk titrasi contoh (ml)
B = Jumlah HCl yang digunakan untuk titrasi blanko (ml)
1,4 = berat dari N (secara analitik), ekivalen untuk 1 ml HCl 0,1 N
C = Berat contoh susu yang digunakan (gram)

g. Uji Alkohol
Prinsipnya adalah bahwa kestabilan sifat koloidal protein-protein susu tergantung pada selubung air yang menyelimutinya. Hal ini terutama pada kasein. Bila susu dicampur dengan alkohol yang mempunyai sifat dehidrasi maka protein tersebut akan terkoagulasi sehingga susu tersebut akan pecah. Semakin tinggi derajat keasaman susu yang diperiksa, maka akan semakin rendah jumlah alkohol dengan kepekatan tertentu yang diperlukan untuk memecahkan susu dengan volume yang sama. Percobaan mulai positif pada derajat asam 8 - 90 SH.
Prosedurnya yaitu masukkan 5 ml susu ke dalam tabung reaksi. Tambahkan alkohol 70% dalam jumlah yang sama. Amati terhadap adanya gumpalan dan atau pemisahan bagian-bagian protein susu. Adanya butiran atau gumpalan susu menunjukkan reaksi positif.
h. Uji Jumlah Cemaran Mikroba
Pengujian cemaran mikroba dalam susu segar bertujuan sebagai indikator sanitasi dalam proses produksi atau penanganan susu serta sebagai indikator kesehatan dan keamanan susu. Berbagai macam uji mikrobiologi dapat dilakukan, meliputi uji kuantitatif mikroba untuk menentukan kualitas, uji kualitatif bakteri patogen untuk menentukan tingkat keamanannya, serta uji bakteri indikator untuk menentukan tingkat sanitasi susu tersebut. Prinsip uji ini adalah bahwa angka lempeng total (Total Plate Count) dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam susu dengan metoda hitungan cawan. Jika sel mikroba yang masih hidup ditumbuhkan pada medium agar, maka sel mikroba tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dengan mata tanpa menggunakan mikroskop.
Prosedur pengujiannya yaitu lakukan pengenceran contoh susu secara desimal (menjadi pengenceran 1:10, 1:100, 1:1000, dan seterusnya). Letakkan labu erlenmeyer secara berderet dan masing-masing diberi tanda 1:10, 1:100, 1:1.000, dan seterusnya serta 1 (satu) labu erlenmeyer lainnya dengan tanda K (Kontrol). Deretkan pula cawan petri di depan labu erlenmeyer seperti dimaksud diatas, disesuaikan dengan pengencerannya. Untuk meningkatkan ketepatan pengujian, sebaiknya pemupukan dilakukan secara duplo. Dengan mengetahui sejarah contoh susu serta berdasarkan pengalaman, maka cemaran mikroba dalam susu dapat diperkirakan jumlahnya secara kasar, sehingga pemupukan pada cawan petri dapat diambil dari 3 atau 4 konsentrasi tertentu yang berurutan.
Bila diharapkan jumlah cemaran susu adalah 105, maka contoh susu dikocok dengan shaker atau pengocok mekanis dan dengan menggunakan pipet steril pindahkan 0,1 ml ke dalam cawan petri bertanda 10-1 dan sebanyak 1 ml ke dalam Buffered Peptone Water 0,1% dalam labu erlenmeyer I bertanda 1 : 10. Kocok labu erlenmeyer (I) ini dengan shaker atau pengocok mekanis, kemudian dengan pipet steril dipindahkan 0,1 ml ke dalam cawan petri bertanda 10-2, dan 1 ml ke dalam labu erlenmeyer II bertanda 1:100. Lakukan prosedur yang sama untuk mempersiapkan pemupukan selanjutnya. Dengan pipet steril, pindahkan 1 ml Buffered Peptone Water dari labu Erlenmeyer bertanda K ke dalam cawan petri bertanda K. Sementara itu tabung reaksi yang berisi 12 - 15 ml PCA dipanaskan dalam penangas air sampai mencair, kemudian didinginkan sampai suhunya mencapai 40 - 50oC. Tuangkan tiap 12 - 15 ml PCA tadi ke masing-masing cawan petri yang sudah berisi larutan contoh. Supaya larutan contoh dan media PCA dapat tercampur dengan baik, maka lakukan gerakan searah gerakan jarum jam yang dilanjutkan dengan gerakan berlawanan dengan arah jarum jam, atau dengan gerakan seperti angka delapan, masing-masing sebanyak 5 kali. Selama pencampuran, jaga jangan sampai tutup cawan terkena campuran larutan contoh dan media tersebut. Biarkan cawan-cawan tersebut pada posisi horisontal sampai mengeras. Segera setelah media mengeras, cawan-cawan petri tersebut dibalik hingga posisi tutupnya berada di bawah, dan masukkan ke dalam inkubator 35oC selama 48 jam. Cawan-cawan harus diatur sedemikian rupa sehingga inkubator tidak terlalu penuh, dan tidak ada cawan yang menyentuh dinding inkubator. Cawan boleh diatur bersusun yang tingginya tidak lebih dari 6 cawan.
Perhitungan cawan setelah inkubasi, maka pilih cawan yang ditumbuhi oleh koloni yang jumlahnya antara 25 - 250. Bila cawan dari tingkat pengenceran berbeda memiliki jumlah koloni pada kisaran tersebut di atas, maka pilihlah cawan dengan koloni yang lebih banyak. Jumlah koloni per ml susu dihitung dengan mengalikan jumlah rata-rata koloni dari pengenceran yang dipilih dengan kebalikan dari faktor pengenceran. Misalnya, jika setelah diinkubasi diperoleh 60 dan 64 koloni pada masing-masing cawan duplo yang mengandung pengenceran 10-4, maka jumlah koloni dapat dihitung sebagai berikut (1 ml larutan pengencer dianggap mempunyai berat 1 gram):
Faktor pengenceran = Pengenceran x Jumlah yang ditumbuhkan
= 10-4 x 1,0
= 10-4
Jumlah koloni = Jumlah koloni x 1/faktor pengenceran per cawan
= (60 + 64)/2 x 1/10-4
= 6.2 x 105

i. Uji yang lainnya
Selain jenis uji susu segar yang disebutkan di atas, ada beberapa jenis uji susu yang lainnya, yaitu uji warna, bau, rasa dan kekentalan, uji titrasi keasaman Soxhlet Henkel, uji katalase, uji reduktase, uji sedimen, uji Penentuan titik beku, perhitungan jumlah sel radang, uji kebersihan, uji pemalsuan, pengukuran jumlah bakteri patogen (coliform, E. colii, S. aureus, dan Salmonella) dan uji peroksidase dengan metoda Storch. Semua jenis pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui kualitas produk susu yang dihasilkan, sehingga mutu produk dapat selalu terkontrol.




2. Teknik Pemerahan
Teknik pemerahan sapi dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pemerah (“milking machine”) dan dengan tangan (“hand milking”) (Prihadi, 1996).
a. Pemerahan Menggunakan Tangan
Metode pemerahan dengan tangan terdiri dari tiga metode, yaitu metode full hand (seluruh jari), knevelen dan strippen. Pemerahan dengan menggunakan seluruh jari biasanya dilakukan pada sapi yang mempunyai ambing dan puting yang panjang dan besar. Pemerahan dilakukan dengan cara puting dipegang antara ibu jari dengan jari telunjuk pada pangkal puting menekan dan meremas pada bagian atas, sedangkan ketiga jari yang lain menekan dan meremas bagian tubuh puting secara berurutan, hingga air susu memancar keluar dan dilakukan sampai air susu dalam ambing habis (Abubakar, et. al., 2009).

Gambar 3. Cara Pemerahan Full Hand (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
Metode pemerahan cara strippen adalah metode pemerahan menggunakan dua jari sambil menarik puting. Cara ini sering dilakukan pada sapi yang memiliki ukuran puting kecil, yaitu dilakukan dengan cara memijat puting dengan ibu jari dan jari telunjuk pada pangkal puting dan diurutkan ke arah ujung puting sampai air susu memancar keluar. Cara ini harus menggunakan vaselin atau minyak kelapa sebagai pelicin, agar tidak terjadi kelecetan pada puting.

Gambar 4. Cara Pemerahan Strippen (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
Cara pemerahan knevelen adalah pemerahan dengan menggunakan seluruh tangan. Cara ini mirip dengan cara full hand, tetapi ibu jari ditekuk saat menekan bagian atas puting, sehingga bagian punggung ibu jari yang menekan puting. Cara ini juga digunakan pada sapi yang memiliki ukuran puting kecil. Semua cara pemerahan dengan tangan, pembersihan dan disinfektan dilakukan pada masing-masing puting ketika proses pemerahan telah selesai, hal ini untuk mencegah infeksi dan radang ambing (mastitis) (Abubakar et. al., 2009)

Gambar 5. Cara Pemerahan Knevelen (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
b. Pemerahan Menggunakan Mesin
Metode pemerahan dengan mesin perah modern dewasa ini menggunakan cara mekanisasi, artinya pemerahan memakai mesin sebagai pengganti tangan. Dalam peternakan sapi perah, mesin perah dibedakan menjadi 3 yaitu sistem ember (bucket system), sistem pipa (pipe line system) dan sistem bangsal pemerahan (milking parlor system) (Himam, 2008).
1. Sistem ember adalah salah satu sistem pemerahan yang menggunakan mesin sebagai pengganti tangan yang dapat dipindah-pindah dari tempat satu ke tempat lain (mobile). Sistem ini cocok digunakan untuk peternakan kecil. Susu hasil perahan dari sistem ini ditampung di ember yang terdapat di setiap mesin. Setelah itu, susu hasil perahan setiap ekor sapi ditakar terlebih dahulu, kemudian dituang di tangki pendingin. Pemerahan dengan sistem ini dapat diterapkan di Indonesia pada peternak sapi perah yang jumlah sapi induk kurang dari 10 ekor atau pada peternak sapi perah rakyat yang kandangnya berkelompok. Pemerahan dengan sistem ember ini perlu dirintis di Indonesia dengan harapan dapat menekan kandungan mikroba dalam susu.


Gambar 6. Alat Perah Sistem Bucket (mobile)
2. Sistem Pipa (Pipe line system), pada sistem ini pemerahan langsung juga berada di dalam kandang dimana sapi yang yang akan diperah tetap terikat ditempatnya. Mesin perah dipindah dari sapi satu ke sapi berikutnya. Sedang susu hasil pemerahan langsung dialirkan ke dalam tangki pendingin melalui pipa tanpa berhubungan dengan udara luar. Sistem pemerahan dengan cara ini dilakukan pada peternakan sapi perah skala besar dengan kapasitas ratusan hingga ribuan ekor sapi. Sistem pemerahan dengan sistem pipa ini dapat dilihat pada gambar 7.

Gambar 7. Sistem Pemerahan Pipe Line
3. Sistem bangsal pemerahan (milking parlor system) berlangsung di suatu bangsal atau ruang khusus yang disiapkan untuk pemerahan. Di bangsal ini ditempatkan beberapa mesin perah. Setiap satu mesin melayani seekor sapi. Sasu hasil pemerahan langsung ditampung di tangki pendingin (cooling unit) sesudah melalui tabung pengukur produksi yang terdapat pada setiap mesin. Sapi yang akan diperah digiring ke bangsal pemerah melalui suatu ternpat (holding area) yang luasnya terbatas dan sapi berdesakan. Di holding area sapi dibersihkan dengan sprayer dari segala arah (Gambar 8.), selanjutnya sapi satu per satu masuk bangsal (milking parlor). Sistem ini biasanya digunakan oleh peternakan dengan industri.

Gambar 8. Mesin Perah Sistem Bangsal
Pemerahan menggunakan mesin masih sangat jarang digunakan di Indonesia karena peternakan sapi perah umumnya dalam skala kecil. Cara kerja pemerahan menggunakan mesin perah hampir sama dengan pemerahan menggunakan tangan, hanya bedanya adalah pemerahan dilakukan dengan mesin. Sebelum pemerahan, ambing dibersihkan dan dirangsang terlebih dahulu menggunakan rabaan tangan, kemudian diperiksa pancaran pertama air susu dari masing-masing puting. Apabila ada penggumpalan, bernanah, berdarah dan kelainan yang lain, menandakan puting ataupun ambing dalam keadaan tidak sehat. Sebaiknya tidak dilakukan pemerahan dengan menggunakan mesin (Abubakar et. al., 2009).
Setalah ambing dipersiapkan (dibersihkan, dirangsang dan diperiksa), kemudian mesin perah dipasangkan pada masing-masing puting lalu mesin di jalankan (di“on”kan). Pemerahan berjalan dan susu yang dihasilkan ditampung didalam ember ataupun tangki penampungan. Lamanya pemerahan untuk setiap individu sapi kurang lebih selama delapan menit. Hal ini tergantung pada banyaknya produksi susu yang dihasilkan dan kemampuan mesin perah. Apabila corong mesin perah pada puting lepas, maka harus segera dipasang kembali, dan apabila aliran susu mulai sedikit atau habis, maka segera corong puting harus segera dilepaskan. Penuntasan sisa pemerahan dilakukan dengan menggunakan tangan. Pembersihan dan disinfektan dilakukan pada masing-masing puting ketika proses pemerahan telah selesai, hal ini untuk mencegah infeksi dan radang ambing (mastitis) (Abubakar et. al., 2009).

3. Beberapa Hal Penting dalam Pemerahan
a. Pra-pemerahan
Alat-alat yang diperlukan untuk pemerahan susu harus disiapkan terlebih dahulu, yaitu ember yang bermulut sempit untuk penampung susu, milk can, saringan dan alat uji mastitis, dipersiapkan dalam keadaan kering dan bersih. Alat-alat sebelumnya dicuci menggunakan air bersih bila perlu menggunakan deterjen dan dibilas dengan air panas (60-70oC) untuk membunuh mikroba dan melarutkan lemak susu yang menempel pada alat-alat, selanjutnya alat-alat dikeringkan. Peralatan yang tidak bersih dapat mengakibatkan susu mengandung banyak mikroba. (Usmiati dan Abubakar, 2009).

Gambar 9. Alat-alat yang Harus Disiapkan Sebelum Pemerahan
Ambing sapi dan daerah lipatan paha sapi terlebih dahulu dibersihkan dengan kain bersih yang telah dibasahi air bersih hangat. Pemerahan menggunakan tangan, maka untuk menghindari ekor sapi mengotori susu, ekor sapi diikat, dan rambut daerah lipatan paha sapi perah diguntung untuk menghindari jatuhnya rambut ke dalam susu sehingga menjamin kebersihan susu.

Gambar 10. Pengikatan Ekor Sapi
Menurut Prihadi (1996) bahwa uji CMT positif apabila dari sampel susu setelah ditambah dengan reagen CMT dan digoyang - goyang hingga tercampur akan menghasilkan gel atau susu yang menjendal, semakin kental jendalan susu yang terjadi berarti semakin banyak sel - sel darah putih dan somatic sel terdapat dalam susu.


Gambar 11. Alat Uji Mastitis pada Sapi Perah
Susu merupakan bahan yang mudah terkontaminasi oleh mikroba dari lingkungan, dan juga susu mudah menyerap bau-bauan yang berasal dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, sebelum dilakukan pemerahan, perlu dilakukan pembersihan kandang dan lingkungan sekitar sapi agar kontaminasi dapat diminimalisir.

Gambar 12. Proses Pembersihan Kandang
Proses pemerahan menggunakan mesin, maka perlu memperhatikan kebersihan mesin pemerah. Pembersihan dilakukan sebelum dan setalah pemerahan, sesuai dengan petunjuk teknis dari produsen mesin pemerahan.
b. Saat Pemerahan
Bagi pelaksana pemerahan, maka perlu mempersiapkan kondisi fisik yang sehat, sudah mencuci tangan dan menggunakan pakaian pemerahan yang bersih, dan sebaiknya menggunakan topi. Perlu juga diperhatikan kuku jari tangan, agar dipotong pendek untuk menghindari luka pada puting selama proses pemerahan. Selama proses pemerahan, maka pemerah dilarang merokok, bersiul, makan makanan ringan, dan bersenda gurau, ataupun mengeluarkan suara bising yang dapat menggangu ketenganan sapi (Abubakar, et. al., 2009).
Selang waktu pemerahan harus diatur agar selalu konstan. Umumnya pemerahan dilakukan sebanyak dua kali sehari, yakni pada pagi dan sore hari. Namun, jika produksi susu yang dihasilkan lebih dari 25 liter/hari, pemerahan sebaiknya dilakukan tiga kali sehari, yakni pagi, siang dan sore hari. Selang pemerahan dapat menentukan jumlah susu yang dihasilkan. Jika jaraknya sama, yakni 12 jam, maka jumlah susu yang dihasilkan pada pagi dan sore hari akan sama. Namun, apabila jarak pemerahan tidak sama, maka jumlah susu yang dihasilkan pada sore hari akan lebih sedikit daripada susu yang dihasilkan pada pagi hari.
c. Setelah Pemerahan
Ternak sapi yang telah diperah harus segera diolesi larutan iodin pada masing-masing putingnya. Hal ini untuk menghindari infeksi mikroba yang dapat menyebabkan radang pada ambing. Puting yang baru selesai diperah belum menutup secara sempurna, sehingga memudahkan masuknya mikroba dari lingkungan. Segera setelah proses pemerahan selesai, semua peralatan yang digunakan harus dicuci hingga bersih. Pencucian dengan cara menggunakan deterjen, kemudian dibilas dengan air dingin, dan terakhir dibilas dengan air panas. Kemudian peralatan disimpan kembali di tempat yang bersih (Abubakar, et. al., 2009).
Produk susu yang dihasilkan juga harus segera ditangani dengan benar. Hal ini disebabkan susu adalah produk yang mudah rusak dan terkontaminasi. Menurut Saleh (2004), cara penanganan air susu sesudah pemerahan adalah sebagai berikut:
1. Air susu hasil pemerahan harus segera dikeluarkan dari kandang untuk menjaga jangan sampai susu tersebut berbau sapi atau kandang. Keadaan ini penting terutama jika keadaan ventilasi kandang tidak baik.
2. Air susu tersebut disaring dengan saringan yang terbuat dari kapas atau kain putih dan bersih, susu tersebut disaring langsung dalam milk can. Segera setelah selesai penyaringan milk can tersebut ditutup rapat. Kain penyaring harus dicuci bersih dan digodok kemudian dijemur. Bila kain penyaring tersebut hendak dipakai kembali sebaiknya disetrika terlebih dahulu.
3. Tanpa menghiraukan banyaknya kuman yang telah ada, air susu perlu didinginkan secepat mungkin sesudah pemerahan dan penyaringan sekurang-kurangnya pada suhu 4–7oC selama 2 atau 3 jam. Hal ini dilakukan untuk mencegah berkembangnya kuman yang terdapat didalam air susu. Bila tidak mempunyai alat pendingin maka pendinginan tersebut dilakukan dengan menggunakan balok es, dalam hal ini milk can yang telah berisi susu dimasukkan kedalam bak yang berisi es balok dan ditutup rapat.

BAB III
KESIMPULAN
Proses pemerahan merupakan salah satu titik kritis dalam industri peternakan sapi perah, maka sangat diperlukan pengetahuan yang baik dan benar tentang prosedur pengelolaan pemerahan. Termasuk didalamnya adalah persiapan pemerahan, saat pemerahan dan penanganan hasil serta peralatan setelah pemerahan. Hal ini untuk mencapai mutu produk susu yang sesuai dengan standar yang berlaku (SNI).



DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. California Mastitis Test (CMT). http://www.infovets.com/demo/demo/dairy/D100.HTM [04 Juni 2011].
Abubakar, C. Sunarko, B. Sutrasno, Siwi S., A. Kumalajati, H. Supriadi, A. Marsudi dan Budiningsih. 2009. Petunjuk Pemeliharaan Bibit Sapi Perah. Departemen Pertanian. Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul Sapi Perah, Baturraden.
Himam, S. 2008. Alat Pemerahan Susu (Milking Machine). Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Prihadi, S. 1996. Tatalaksana dan Produksi Ternak Perah. Universitas
Wangsamangg ala, Yogyakarta.
Saleh, E. 2004. Teknologi Pengolahan Susu Dan Hasil Ikutan Ternak. Fakultas Peternakan Universitas Sumatera Utara.
SNI 01-3141-1998. 1998. Susu Segar. Badan Standarisasi Nasional.
SNI 01-2782-1998. 1998. Metoda pengujian susu segar. Badan Standarisasi Nasional.
Rahayu, I.D. 2003. Mastitis Pada Sapi Perah. Fakultas Pertanian Peternaka Universitas Muhammadiyah Malang.
Syarief, M. Z dan C. D. A. Sumoprastowo. 1990. Ternak Perah. C.V. Yasaguna, Jakarta.
Usmiati, S. dan Abubakar, 2009. Teknologi Pengolahan Susu. Balai Besar Penelitan dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor.

1 komentar:

Putri mengatakan...

mas, mau nanya, klo uji lemak metode gerber di malang itu, dmna ya??? makasih... mhon infonya.